Akidah Menurut Ajaran Nabi

Ikon

Oleh: Hasan Husen Assagaf

10 Sahabat Dijamin Masuk Surga

SAHABAT NABI

Sahabat Nabi saw adalah manusia manusia mulia dan dimuliakan Allah. Sahabat Nabi saw adalah mereka yang hidup di zaman Nabi saw, mengenal dan melihat langsung beliau, membantu perjuangan beliau dan meninggal dalam keadaan beriman. Jumlah sahabat Nabi saw sangat banyak dan tak terhitung. Dalam kitab ”Rijal Haula Ar-Rasul” oleh Khalid Muhammad Khalid disebutkan bahwa para sahabat Nabi saw yang paling utama jumlahnya lebih dari 60, yakni mereka yang sangat dekat dengan Nabi saw. Mereka disebut pengikut atau murid yang dekat dengan Nabi saw. Mereka mempunyai status atau kedudukan yang penting dalam dunia Islam, karena mereka adalah pengikut Nabi yang banyak memberi andil dalam da’wah Nabi saw.

Tingkatan atau derajat sahabat Nabi saw menurut para ulama terbagi dalam beberapa tingkatan, yaitu:  pertama, para sahabat yang masuk Islam di Mekkah sebelum melakukan hijrah seperti Khulafa’ur Rasyidin yaitu 4 khalifah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali ra. Kedua, sahabat yang dijamin masuk surga. Ketiga, para sahabat yang ikut serta pada perang Badar. Keempat, para sahabat yang ikut serta pada perang Uhud. Kelima, para sahabat yang ikut serta pada bai’at Ridhwan. Dan keenam adalah sahabat sahabat lainnya yang jumlah mereka tidak sedikit.

– Sepuluh Sahabat Yang Dijamin Masuk Surga

Kepastian para 10 sahabat nabi saw masuk surga banyak sekali disebut dalam hadits shahih. Semua hadits itu wajib diimani. Diantaranya hadits dari Abdurahman bin ‘Auf ra berkata bahwa Nabi saw bersabda,

عن عبدالرحمن بن عوف رضي الله عنه ان رسول الله صلى الله عليه وسلم قال : أبو بكر في الجنة، وعمر في الجنة، وعثمان في الجنة، وعلي في الجنة، وطلحة في الجنة، والزبير في الجنة، وعبد الرحمن بن عوف في الجنة، وسعد بن أبي وقاص في الجنة، وسعيد بن زيد في الجنة وأبو عبيدة بن الجراح في الجنة – رواه الترمذي وغيره

Abu Bakar di surga, Umar di surga, Utsman di surga, Ali di surga, Thalhah di surga, Zubair di surga, Abdurrahman bin Auf di surga, Sa`ad bin Abī Waqqās di surga, Sa’id bin Zaid di surga, Abu Ubaidah bin al-Jarrah di surga – HR. Ahmad, Tirmidzi dan An-Nasai

  1. Abu Bakar Siddiq ra.

Abu Bakar Ash-Shiddiq (lahir: 572 – wafat: 23 Agustus 634/21 Jumadil Akhir 13 H) termasuk di antara orang-orang yang paling awal memeluk agama Islam atau yang dikenal dengan sebutan as-sabiqun al-awwalun. Setelah Nabi Muhammad wafat, Abu Bakar menjadi khalifah Islam yang pertama pada tahun 632 hingga tahun 634 Masehi. Ia adalah satu di antara empat khalifah yang diberi gelar Khulafaur Rasyidin atau khalifah yang diberi petunjuk. Abu Bakar menjadi Khalifah selama 2 tahun, 2 bulan, dan 14 hari setelah meninggal terkena penyakit. Abu Bakar adalah ayah dari Aisyah, istri Nabi Muhammad. Nabi memberinya gelar yaitu Ash-Shiddiq (artinya ‘yang berkata benar) setelah Abu Bakar membenarkan peristiwa Isra Mi’raj yang diceritakan Nabi kepada para pengikutnya, sehingga ia lebih dikenal dengan nama “Abu Bakar ash-Shiddiq”

Ibnu Katsir dalam bukunya Al-Bidayah wan Nihayah memiliki pendapat bahwa wanita yang pertama kali masuk Islam adalah Khadijah. Zaid bin Haritsah adalah budak pertama yang masuk Islam. Ali bin Abi Thalib adalah anak kecil pertama yang masuk islam karena pada waktu ia masuk Islam, Ali belum dewasa pada waktu itu. Adapun laki-laki dewasa yang bukan budak yang pertama kali masuk islam yaitu Abu Bakar. Abu Bakar lalu mendakwahkan ajaran Islam kepada Utsman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqas dan beberapa tokoh penting dalam Islam lainnya.

Ketika peristiwa Hijrah, saat Nabi saw pindah ke Madinah (622 M), Abu Bakar adalah satu-satunya orang yang menemaninya. Abu Bakar juga terikat dengan Nabi Muhammad secara kekeluargaan. Anak perempuannya, Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad beberapa saat setelah Hijrah.

Selama masa sakit Rasulullah saat menjelang wafat, dikatakan bahwa Abu Bakar ditunjuk untuk menjadi imam salat menggantikannya, banyak yang menganggap ini sebagai isyarat bahwa Abu Bakar akan menggantikan posisinya. Setelah kematiannya, dilakukan musyawarah di kalangan para pemuka kaum Anshar dan Muhajirin di Tsaqifah bani saidah yang terletak di Madinah, yang akhirnya menghasilkan penunjukan Abu Bakar sebagai pemimpin baru umat Islam atau khalifah Islam pada tahun 632 M. Ali sendiri secara formal menyatakan kesetiaannya (berbai’at) kepada Abu Bakar dan dua khalifah setelahnya (Umar bin Khattab dan Usman bin Affan). Kaum sunni menggambarkan pernyataan ini sebagai pernyataan yang antusias dan Ali menjadi pendukung setia Abu Bakar dan Umar.

Pada zaman kekhilafaan Abu Bakar, beberapa masalah yang mengancam persatuan dan stabilitas komunitas dan negara Islam. Beberapa suku Arab yang berasal dari daerah Hijaz dan Nejed membangkang kepada khalifah baru dan sistem yang ada. Beberapa di antaranya menolak membayar zakat walaupun tidak menolak agama Islam secara utuh. Berdasarkan hal ini Abu Bakar menyatakan perang terhadap mereka yang dikenal dengan nama perang Riddah. Dalam perang Ridda peperangan terbesar adalah memerangi Ibnu Habi al-Hanafi yang lebih dikenal dengan nama Musailamah al-Kazzab (Musailamah si pendusta), yang mengklaim dirinya sebagai nabi baru menggantikan Nabi Muhamad. Pasukan Musailamah kemudian dikalahkan pada pertempuran Akraba oleh Khalid bin Walid. Sedangkan Musailamah sendiri terbunuh di tangan Al Wahsyi, seorang mantan budak yang dibebaskan oleh Hindun binti Utbah istri Abu Sufyan karena telah berhasil membunuh Hamzah Singa Allah dalam Perang Uhud.

Abu Bakar juga berperan dalam pelestarian teks-teks tertulis Al Qur’an. Dikatakan bahwa setelah kemenangan yang sangat sulit saat melawan Musailamah al-kadzdzab dalam perang Riddah atau juga dikenal dengan perang yamamah, banyak para penghafal Al Qur’an yang terbunuh dalam pertempuran. Umar lantas meminta Abu Bakar untuk mengumpulkan koleksi dari Al Qur’an. oleh sebuah tim yang diketuai oleh sahabat Zaid bin Tsabit, dikumpulkan lembaran al-Qur’an dari para penghafal al-Qur’an. Setelah lengkap penulisan ini maka kemudian disimpan oleh Abu Bakar. setelah Abu Bakar meninggal maka disimpan oleh Umar bin Khaththab dan kemudian disimpan oleh Hafsah, anak dari Umar dan juga istri dari Nabi saw. Kemudian pada masa pemerintahan Usman bin Affan koleksi ini menjadi dasar penulisan teks al-Qur’an yang dikenal saat ini.

Abu Bakar Siddiq meninggal di Madinah dalam umur 63 tahun, dari beliau diriwayatkan 142 hadits. Dimakamkan dekat dengan makan Nabi saw.

  1. Umar Bin Khatab ra.

Beliau adalah khalifah ke-dua sesudah Abu Bakar, dan termasuk salah seorang yang sangat dikasihi oleh Nabi saw semasa hidupnya. Sebelum memeluk Islam, beliau merupakan musuh yang paling ditakuti oleh kaum Muslimin. Setelah masuk islam, ia menjadi salah satu benteng Islam. Beliau meninggal dibunuh oleh Abu Lulu Al-Majusi di Madinah dalam umur 64 tahun.

Pada tahun 622 M, Umar ikut bersama Nabi saw dan pemeluk Islam lain berhijrah ke Yatsrib (sekarang Madinah) . Ia juga terlibat pada perang Badar, Uhud, Khaybar serta penyerangan ke Syria. Ia dianggap sebagai seorang yang paling disegani oleh kaum Muslim pada masa itu karena selain reputasinya yang memang terkenal sejak masa pra-Islam, juga karena ia dikenal sebagai orang terdepan yang selalu membela Nabi saw dan ajaran Islam pada setiap kesempatan yang ada bahkan ia tanpa ragu menentang kawan-kawan lamanya yang dulu bersama mereka ia ikut menyiksa para pengikutnya Nabi saw.

Pada masa Abu Bakar menjabat sebagai khalifah, Umar merupakan salah satu penasihat kepalanya. Setelah meninggalnya Abu Bakar pada tahun 634, Umar ditunjuk untuk menggantikan Abu Bakar sebagai khalifah kedua dalam sejarah Islam.

Selama pemerintahan Umar, kekuasaan Islam tumbuh dengan sangat pesat. Islam mengambil alih Mesopotamia dan sebagian Persia dari tangan dinasti Sassanid dari Persia (yang mengakhiri masa kekaisaran sassanid) serta mengambil alih Mesir, Palestina, Syria, Afrika Utara dan Armenia dari kekaisaran Romawi (Byzantium). Saat itu ada dua negara adi daya yaitu Persia dan Romawi. Namun keduanya telah ditaklukkan oleh kekhalifahan Islam dibawah pimpinan Umar.

Pada tahun 637, setelah pengepungan yang lama terhadap Yerusalem, pasukan Islam akhirnya mengambil alih kota tersebut. Umar diberikan kunci untuk memasuki kota oleh pendeta Sophronius dan diundang untuk salat di dalam gereja al-Kiamah (Church of the Holy Sepulchre). Umar memilih untuk salat di tempat lain agar tidak membahayakan gereja tersebut. Setelah 55 tahun kemudian, Masjid Umar didirikan di tempat ia salat.

Umar melakukan banyak reformasi secara administratif dan mengontrol dari dekat kebijakan publik, termasuk membangun sistem administrasi untuk daerah yang baru ditaklukkan. Ia juga memerintahkan diselenggarakannya sensus di seluruh wilayah kekuasaan Islam. Tahun 638, ia memerintahkan untuk memperluas dan merenovasi Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Medinah. Ia juga memulai proses penggunaan hukum Islam. Umar dikenal dari gaya hidupnya yang sederhana, alih-alih mengadopsi gaya hidup dan penampilan para penguasa di zaman itu, ia tetap hidup sangat sederhana. Pada sekitar tahun ke 17 Hijriah, tahun ke-empat kekhalifahannya, Umar mengeluarkan keputusan bahwa penanggalan Islam hendaknya mulai dihitung saat peristiwa hijrahnya Nabi saw.

Umar bin Khattab dibunuh oleh Abu Lulu (Fairuz), seorang budak yang fanatik pada saat ia akan memimpin salat Subuh. Abu Lulu adalah orang Persia yang masuk Islam setelah Persia ditaklukkan Umar. Pembunuhan ini konon ada latarbelakang dendam pribadi Abu Lukluk (Fairuz) terhadap Umar. Fairuz merasa sakit hati atas kekalahan Persia, yang saat itu merupakan negara adidaya. Peristiwa ini terjadi pada hari Rabu, 25 Dzulhijjah 23 H/644 M. Setelah wafat beliau, jabatan khalifah dipegang oleh Usman bin Affan. Dimakamkan dekat dengan Nabi saw.

  1. Usman Bin Affan ra.

Utsman bin Affan adalah sahabat Nabi saw, termasuk Khulafaur Rasyidin ketiga. Utsman ra dikenal sebagai pedagang kaya raya dan ekonomi yang handal namun sangat dermawan. Banyak bantuan ekonomi yang diberikannya kepada umat Islam di awal dakwah Islam. Ia juga berjasa dalam hal membukukan Al-Qur’an. Utsman adalah khalifah ketiga yang memerintah dari tahun 644 pada usia 70 tahun hingga tahun 656 (selama 11–12 tahun). Selain itu sahabat nabi yang satu ini memiliki sifat yang sangat pemalu. Ia mendapat julukan Dzun Nurain yang berarti memiliki dua cahaya. Julukan ini didapat karena Utsman ra telah menikahi dua puteri Nabi saw yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum.

Ia masuk Islam atas ajakan Abu Bakar dan termasuk golongan As-Sabiqun al-Awwalun (golongan yang pertama-tama masuk Islam). Rasulullah saw sendiri menggambarkan Utsman bin Affan sebagai pribadi yang paling jujur dan rendah hati di antara kaum muslimin. Pada saat seruan hijrah pertama oleh Rasullullah saw ke Habbasyiah karena meningkatnya tekanan kaum Quraisy terhadap umat Islam, Utsman bersama istri dan kaum muslimin lainnya memenuhi seruan tersebut dan hijrah ke Habasyiah. Kemudian Utsman mengikuti Nabi saw untuk hijrah ke Madinah.

Setelah wafatnya Umar bin Khattab sebagai khalifah kedua, diadakanlah musyawarah untuk memilih khalifah selanjutnya. Ada enam orang kandidat khalifah yang diusulkan yaitu Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Abdul Rahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam dan Thalhah bin Ubaidillah. Selanjutnya Abdul Rahman bin Auff, Sa’ad bin Abi Waqas, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin Ubaidillah mengundurkan diri hingga hanya Utsman dan Ali yang tertinggal. Suara masyarakat pada saat itu cenderung memilih Utsman menjadi khalifah ketiga. Maka diangkatlah Utsman menjadi khalifah ketiga dan yang tertua. Peristiwa ini terjadi pada bulan Muharram 24 H. Utsman menjadi khalifah di saat pemerintah Islam telah betul-betul mapan dan terstruktur.

Ia adalah khalifah kali pertama yang melakukan perluasan Masjid al-Haram Mekkah dan Masjid Nabawi Madinah karena semakin ramai umat Islam yang menjalankan rukun Islam kelima (haji). Jasanya yang paling besar adalah saat mengeluarkan kebijakan untuk mengumpulkan Al-Quran dalam satu mushaf.

Akhir hayatnya Khalifah Utsman dikepung oleh pemberontak selama 40 hari. Dia diberi dua ultimatum oleh pemberontak, yaitu mengundurkan diri atau dibunuh. Meski Utsman mempunyai kekuatan untuk menyingkirkan pemberontak, namun ia berprinsip untuk tidak menumpahkan darah umat Islam. Utsman akhirnya wafat sebagai syahid pada bulan Dzulhijah 35 H ketika para pemberontak berhasil memasuki rumahnya dan membunuh Utsman saat sedang membaca Al-Quran. Ia dimakamkan di kuburan Baqi di Madinah.

  1. Ali Bin Abi Thalib ra.

Merupakan khalifah keempat, beliau terkenal dengan siasat perang dan ilmu pengetahuan yang tinggi. Selain Umar bin Khattab, Ali bin Abi Thalib juga terkenal keberaniannya didalam peperangan. Orang pertama yang beriman dalam usia kanak kanak. Beliau sudah mengikuti Nabi saw sejak kecil dan hidup bersama sama dalam satu rumah sampai Rasulallah saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul hingga wafatnya.

Ali bin Abi Thalib (lahir di Makkah sekitar 13 Rajab 23 Pra Hijriah/599 Masehi – wafat 21 Ramadan 40 Hijriah/661 Masehi), adalah salah seorang pemeluk Islam pertama.  beliau adalah sepupu dan sekaligus mantu Nabi saw, setelah menikah dengan Fatimah az-Zahra. Menurut Islam Sunni beliau dijuluki Abu Turab. Beliau adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin pada tahun 656 sampai 661. Hampir semua peperangan dia ikuti kecuali perang Tabuk karena mewakili Nabi Muhammad untuk menjaga kota Madinah.

Kelahiran Ali bin Abi Thalib banyak memberi hiburan bagi nabi saw karena dia tidak punya anak laki-laki. Uzur dan faqir nya keluarga Abu Thalib memberi kesempatan bagi Nabi saw bersama istri dia Khadijah untuk mengasuh Ali dan menjadikannya putra angkat. Hal ini sekaligus untuk membalas jasa kepada Abu Thalib yang telah mengasuh nabi sejak dia kecil hingga dewasa. Karena kedekatannya dengan Nabi saw, maka banyak riwayat seperti Ibnu Ishaq menjelaskan Ali adalah lelaki pertama yang mempercayai wahyu Nabi saw atau orang kedua yang percaya setelah Khadijah istri nabi sendiri. Pada saat itu Ali berusia sekitar 10 tahun.

Pada usia remaja setelah wahyu turun, Ali banyak belajar langsung dari Nabi saw karena sebagai anak asuh, berkesempatan selalu dekat dengan nabi hal ini berkelanjutan hingga dia menjadi menantu nabi. Hal inilah yang menjadi bukti bagi sebagian kaum Sufi bahwa ada pelajaran-pelajaran tertentu masalah ruhani yang kemudian dikenal dengan istilah tasawuf yang diajarkan nabi khusus kepada dia tetapi tidak kepada murid-murid atau sahabat-sahabat yang lain.

Peristiwa pembunuhan terhadap Khalifah Utsman bin Affan, kaum muslimin tidak mempunyai pilihan lain selain Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, waktu itu Ali berusaha menolak, tetapi Zubair bin Awwam dan Talhah bin Ubaidillah memaksa dia, sehingga akhirnya Ali menerima bai’at mereka. Hal ini menjadikan Ali satu-satunya Khalifah yang dibai’at secara massal, karena khalifah sebelumnya dipilih melalui cara yang berbeda-beda.

Sebagai Khalifah keempat yang memerintah selama sekitar 5 tahun. Masa pemerintahannya mewarisi kekacauan dan fitnah yang terjadi saat masa pemerintah Khalifah sebelumnya, Utsman bin Affan. Untuk pertama kalinya terjadi perang saudara (perang Jamal) antara umat Muslim terjadi saat masa pemerintahannya. Perang Jamal yaitu pertempuran antara pasukan yang dipimpin Ali ra jumlahnya 20.000 pasukan melawan 30.000 pasukan yang dipimpinan Zubair bin Awwam, Talhah bin Ubaidillah, dan Ummul mu’minin Aisyah binti Abu Bakar, Istri Rasulullah saw. Perang tersebut dimenangkan oleh pihak Ali.

Peristiwa pembunuhan Khalifah Utsman bin Affan yang menurut berbagai kalangan waktu itu kurang dapat diselesaikan karena fitnah yang sudah terlanjur meluas dan sudah diisyaratkan (akan terjadi) oleh Nabi saw ketika dia masih hidup, menyebabkan perpecahan di kalangan kaum muslim sehingga menyebabkan perang Jamal. Tidak hanya selesai di situ, konflik yang lebih besar lagi terjadi yaitu perang Shiffin, perang antara pasukan Ali ra dan pasukan Muawiyah bin Abi Sufyan yang tidak mengakui kekhilafaannya. Dalam hal ini Ali bin Abi Thalib, seseorang yang memiliki kecakapan dalam bidang militer dan strategi perang, mengalami kesulitan dalam kekhilafaannya karena kekacauan luar biasa yang ditinggalkan pemerintahan sebelumya.

Pada tanggal 19 Ramadan 40 Hijriyah, atau 27 Januari 661 Masehi, saat sholat di Masjid Agung Kufah, Ali diserang oleh seorang Khawarij bernama Abdurrahman bin Muljam. Dia terluka oleh pedang yang diracuni oleh Abdurrahman bin Muljam saat ia sedang bersujud ketika sholat subuh. Ali memerintahkan anak-anaknya untuk tidak menyerang orang Khawarij tersebut, Ali malah berkata bahwa jika dia selamat, Abdurrahman bin Muljam akan diampuni sedangkan jika dia meninggal, Abdurrahman bin Muljam hanya diberi satu pukulan yang sama (terlepas apakah dia akan meninggal karena pukulan itu atau tidak). Ali meninggal dua hari kemudian pada tanggal 29 Januari 661 (21 Ramadan 40 Hijriyah). Hasan bin Ali ra melakukan hukuman qishash kepada Abdurrahman bin Muljam atas kematian ayahnya. Ali Bin Abi Thalib ra meninggal dalam usia 64 tahun dan dikuburkan di Koufah, Irak sekarang.

  1. Thalhah Bin Abdullah ra.

Masuk Islam dengan perantaraan Abu Bakar Siddiq ra, selalu aktif disetiap peperangan selain Perang Badar. Thalhah adalah seorang lelaki yang gagah berani, tidak takut menghadapi kesulitan, kesakitan dan segala macam ujian lainnya. Ia seorang yang kokoh mempertahankan pendirian meskipun ketika jaman jahiliah. Didalam perang Uhud, beliaulah yang mempertahankan Rasulullah saw agar terhindar dari musuh, sehingga putus jari-jarinya.

Ia gugur dalam Perang Jamal dimasa pemerintahan Ali Bin Abi Thalib ra dalam usia 64 tahun, dan dimakamkan di Basrah. Waktu itu terjadi pertempuran “Aljamal”, dan Thalhah berada di pihak lain, yaitu di pihak A’isyah binti Abubakar ra bertemu dengan Ali ra dan Ali ra telah memperingatkannya agar ia mundur ke barisan paling belakang. Tapi sebuah panah dari arah yang tidak diduga mengenai betisnya maka dia segera dipindahkan ke Basra dan tak berapa lama kemudian karena lukanya yang cukup dalam ia wafat.

  1. Zubair Bin Awaam ra

Memeluk Islam juga karena Abu Bakar Siddiq ra, ikut berhijrah sebanyak dua kali ke Habasyah dan mengikuti semua peperangan. Beliau pun gugur dalam perang Jamal dan dikuburkan di Basrah pada umur 64 tahun.

Ibunya bernama Shafiyah binti Abdul Muthalib, bibi Rasulullah saw. Wanita ini telah menyatakan dirinya sebagai pemeluk agama Islam. Zubair bin Awwam termasuk salah seorang dari 7 orang yang pertama masuk Islam. Beliau memeluk agama Islam ketika dia masih berusia 8 tahun dan melakukan hijrah ketika berusia 18 tahun. Zubair menikah dengan Asma’ binti Abubakar as-siddik

Zubair merupakan orang yang pertama taat mengikuti perintah Nabi saw di jalan Allah, Ia pernah ikut berhijrah ke Habasyah bersama orang-orang hijrah dari kaum muslimin, dan beliau tetap tinggal disana hingga Rasulullah saw mengijinkannya untuk kembali ke Madinah. Beliau selalu mengikuti peperangan bersama Rasulullah saw, setelah perang Uhud dan orang-orang Quraisy kembali ke Mekah, Rasulullah saw mengirim 70 orang sahabat untuk mendampingi dirinya, termasuk di dalamnya  Abu Bakar As-Siddiq  dan Zubair bin Awwam.

Setelah berkecamuk fitnah antara dua golongan muslimin setelah wafatnya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam keluar dalam peperangan al-Jamal bersama-sama A’isyah ra melawan Ali bin Abi Thalib ra. Beliau mati syahid dibunuh dalam peperangan tsb oleh seseorang dari kaum Tamim bernama Amru bin Jarmuz mengikuti beliau dan membunuhnya dari belakang di suatu tempat yang bernama lembah Siba. Lalu Amru pergi kepada Ali bin Abu Thalib ra dengan menduga bahwa dia telah membawa kabar gembira, setelah mengetahui hal tersebut Ali ra menangis dan berteriak, “Berikan kabar kepada pembunuh putra Sofiyyah dengan neraka, sungguh Rasulullah saw pernah bersabda kepada aku bahwa pembunuh Zubair adalah penghuni neraka.”.

Zubair bin Awwam wafat pada hari Kamis bulan Jumadil Awwal tahun 36 Hijriyyah, sedangkan umurnya saat itu 66 atau 67 tahun.

  1. Sa’ad bin Abi Waqqas ra

Sa’ad bin Abi Waqqas berasal dari garis Bani Zuhrah dari suku Quraisy, dan paman Nabi saw dari garis pihak ibu. Abdurrahman bin Auf, sahabat nabi yang lain, merupakan sepupu. Sa’ad lahir dan besar di kota mekkah. Ia dikenal sebagai pemuda yang serius dan memiliki pemikiran yang cerdas. Sosoknya tidak terlalu tinggi namun bertubuh tegap dengan potongan rambut pendek. Ia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya raya dan sangat disayangi kedua orangtuanya, terutama ibunya. Meski berasal dari Makkah, ia sangat benci pada agamanya dan cara hidup yang dianut masyarakatnya. Ia membenci praktik penyembahan berhala yang membudaya di Makkah saat itu.

Suatu hari dalam hidupnya, ia didatangi sosok Abu Bakar yang dikenal sebagai orang yang ramah. Ia mengajak Sa’ad menemui Nabi saw di sebuah perbukitan dekat Makkah. Pertemuan itu mengesankan Sa’ad yang saat itu baru berusia 20 tahun. Ia pun segera menerima undangan Nabi saw untuk menjadi salah satu penganut ajaran Islam yang dibawanya. Sa’ad kemudian menjadi salah satu sahabat yang pertama masuk Islam.

keislaman Saad mendapat tentangan keras terutama dari keluarga dan anggota sukunya. Ibunya bahkan mengancam akan bunuh diri. Selama beberapa hari, ibu Sa’ad menolak makan dan minum sehingga kurus dan lemah. Meski dibujuk dan dibawakan makanan, namun ibunya tetap menolak dan hanya bersedia makan jika Sa’ad kembali ke agama lamanya. Namun Sa’ad berkata bahwa meski ia memiliki kecintaan luar biasa pada sang ibu, namun kecintaannya pada Allah dan Rasulullah saw jauh lebih besar lagi. Mendengar kekerasan hati Sa’ad, sang ibu akhirnya menyerah dan mau makan kembali. Fakta ini memberikan bukti kekuatan dan keteguhan iman Sa’ad bin Abi Waqqas.

Sa’ad mengikuti seluruh peperangan bersama Nabi saw, pernah ditawan musuh lalu ditebus oleh Rasulullah sewaktu perang Uhud. Beliau mengikuti peperangan Qadisiyyah yang merupakan salah satu peperangan terbesar dalam sejarah dunia. Pasukan Muslim memenangi peperangan itu. Sa’ad ra meninggal dalam usia 70 (ada yang meriwayatkan 82 tahun) dan dimakamkan di Baqi’.

  1. Sa’id Bin Zaid

Sa’id bin Zaid (wafat 51 H/671 M) adalah seorang sahabat nabi dari golongan Muhajirin. Nama lengkapnya adalah Sa’id bin Zaid bin Amr bin Nufail al-Adawi. Sa’id termasuk sepuluh orang yang dijanjikan masuk surga.

Dia adalah suami dari Fatimah binti al-Khattab, yaitu adik Umar bin Khattab. Sa’id dan istrinya telah masuk Islam. Umar ra mengetahuinya dan marah. Mereka sempat dianiyaya, tapi subhanallah setelah Umar membaca surat Taha, ia terharu dan masuk Islam.  Sa’id termasuk orang yang awal masuk Islam dan dia sangat menjunjung tinggi adab Islam. Sebelum dia masuk Islam dia mengikuti agama ayahnya, Zaid bin Amr bin Nufail, yang mengikuti agama Nabi Ibrahim.

Sa’id mengikuti semua peperangan bersama Nabi saw kecuali Perang Badar. Saat itu, Nabi mengutusnya untuk mengintai kafilah Quraisy. Ketika kembali dari tugasnya, perang sudah selesai. Meskipun begitu, Sa’id tetap dianggap ikut perang dan mendapat harta rampasan perang. Sa’id ikut dalam Perang Yarmuk, yaitu penaklukan Damaskus (di Syam). Sa’id meninggal di Aqiq dalam usia 70 tahun. Jenazahnya dimakamkan di pemakaman Baqi’ di Madinah.

  1. Abdurrahman Bin Auf

Abdurrahman bin Auf (lahir 10 tahun setelah Tahun Gajah – meninggal 652 pada umur 72 tahun) adalah salah seorang dari sahabat Nabi saw yang terkenal. Ia adalah salah seorang dari delapan orang pertama (As-Sabiqunal Awwalun) yang menerima agama Islam, yaitu dua hari setelah Abu Bakar. Abdurrahman adalah salah seorang dari Sepuluh Orang yang Dijamin Masuk Surga. Ia memeluk Islam sejak kecilnya dan mengikuti semua peperangan bersama Rasul saw. Turut berhijrah ke Habasyah sebanyak 2 kali. Meninggal pada umur 72 tahun (ada yang meriwayatkan 75 tahun), dimakamkan di baqi’

Abdurrahman bin Auf berasal dari Bani Zuhrah. Salah seorang sahabat Nabi lainnya, yaitu Sa’ad bin Abi Waqqas, adalah saudara sepupunya. Abdurrahman juga adalah suami dari saudara seibu Utsman bin Affan, yaitu anak perempuan dari Urwa bint Kariz (ibu Utsman) dengan suami keduanya.

Abdurrahman bin Auf seorang usahawan ulung dan sangat dermawan. Semua hartanya dikorbankan dan tidak pernah ragu sedikitpun dalam menyumbangkan hartanya untuk kepentingan dakwah Islam. Karena itu, tidak salah jika Rasul saw menyatakan jika Abdurrahman masuk surga dengan merangkak karna dekatnya surga dengannya.

  1. Abu Ubaidillah Bin Jarrah

Abu Ubaidah Amir bin Abdullah bin al-Jarrah adalah Sahabat Nabi saw. beliau adalah Muhajirin dari kaum Quraisy Mekkah yang termasuk paling awal untuk memeluk agama Islam bersama Usman bin Math’uun . Ia ikut berhijrah ke Habasyah dan kemudian, Ia hijrah ke Madinah. beliau mengikuti setiap pertempuran dalam membela Islam. Setelah wafatnya Nabi saw, Ia merupakan salah satu calon Khalifah bersama dengan Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Setelah terpilihnya Abu Bakar sebagai Khalifah, Dia ditunjuk untuk menjadi panglima perang memimpin pasukan Muslim untuk berperang melawan Kekaisaran Romawi. Beliau meninggal pada tahun 18 H di Yordan (Syam) karena penyakit pes, dan dimakamkan di Yordan yang sampai saat ini makamnya masih sering diziarahi oleh kaum Muslimin.

Abu Ubaidah bin al-Jarrah memiliki beberapa keutamaan dalam Islam, di antaranya adalah apa yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah saw bersabda,

“Sesungguhnya setiap umat memiliki amin (orang yang paling amanah atau memiliki kejujuran), dan amin umat ini adalah Abu Ubaidah.” *

(* Untuk membaca sejarah para sahabat Nabi saw selengkapnya silahkan lihat kitab ”Al-Bidayah Wanihayah” oleh Ibnu katsir dan ”Rijal Haula ar-Rasul” oleh Khalid Muhammad Khalid).

Iklan

Filed under: Uncategorized

3 Responses

  1. Ibn Mohamed berkata:

    salam, sekali – kali antum bahas tentang syiah dong,
    dan bagaimana menurut anda tentang syiah.
    karena dikalangan jama’ah tak sedikit yang menganut syiah.

    wasallam

  2. […] 2- 10 Sahabat Dijamin Masuk Surga […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

att00132
Akidah Menurut Ajaran Nabi

Hb Umar dan Penyusun

Toko Dubai.. menjual bermacam macam Abaya, Kerudung dan gamis asli dari Timur Tengah. Alamat paling gampang jalan Raya Condet no.4,,, alamat Maps google “Toko Dubai”

Pengunjung

  • 1,539,906 hits
%d blogger menyukai ini: