Akidah Menurut Ajaran Nabi

Ikon

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Arsy & Kursi

ARSY DAN KURSI

Arsy dan Kursi adalah perkara yang hak atau benar yang wajib diimani keberadaanya oleh setiap muslim. Iman kepada Arsy dan Kursi merupakan cabang dari rukun iman yang keenam yaitu beriman kepada hari akhirat.

Sekarang apa itu Arsy dan apa itu Kursi?

Arti sebenarnya “Arsy” menurut Ibnu Katsier : Al-Arsy dalam bahasa Arab artinya singgasana untuk seorang raja, sebagaimana firman Allah:

وَلَهَا عَرْشٌ عَظِيمٌ – النمل ﴿٢٣

”Adalah dia (ratu Bilqis) mempunyai singgasana yang besar” (An-Naml, 23)

Pengertian Al Arsy menurut Ahlu Sunnah wal Jamaah, adalah makhluq Allah yang tertinggi berupa singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul dan dikelilingi oleh para malaikat.

Menurut Ibnu Katsir : Dia adalah singgasana yang memiliki tiang-tiang yang dipikul oleh para malaikat dan dia seperti kubah yang menutupi alam ini dan dia adalah atapnya para makhluq.

Dan berkata Adz-Dzahabiy – setelah menyebutkan kebahagian ahli syurga: Apa yang disangka tentang Al-Arsy yang agung yang telah dijadikan Allah untuk diriNya dalam ketinggian, luas, tiang-tiang, bentuk, pemikulnya dan melaikat-malaikat berlingkar disekeliling ‘Arsy serta kebagusan dan keindahannya. Sungguh telah diriwayatkan, dia dibuat dari yaquut (jenis permata yang sangat indah) yang berwarna merah.

Menurut Al-Baihaaqy dan pendapat para ahli tafsir tentang Al-Arsy adalah singgasana, dan dia adalah jasad yang berbentuk yang telah diciptakan Allah dan Dia perintahkan para malaikat untuk memikulnya dan beribadah dengan mengagungkan dan berthawaf padanya, sebagimana Dia menciptakan satu rumah dibumi dan memerintahkan bani Adam untuk berthawaf padanya dan menghadapkan kepadanya ketika sholat. Dan pendapat-pendapat mereka itu ada dalil penunjukkannya yang jelas dalam ayat-ayat dan hadits-hadits serta atsar-atsar.

Dan jelaslah dengan keterangan ahli2 tafsir bahwa Al-Arsy ( Singgasana Allah) adalah makhluk yang paling tinggi dan merupakan makhluk besar yang meliputi seluruh makhluk. Arsy adalah makhluk yang paling tinggi dan paling besar dari besarnya sehingga tidak ada yang mampu mengukurnya kecuali Allah sendiri. Arsy terdiri dari 4 tiang yang dipikul oleh 4 malikat.

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ – المؤمنون ﴿١١٦

”Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan (Yang mempunyai) ‘Arsy yang mulia. – al- Mu’minuun, 116

Sedangkan Malaikat Pemikul Arsy, telah disifatkan dalam hadist yang diriwatkan oleh Ibnu Hatim dengan sanadnya dari Jabir bahwa Rasulullah bersabda:

عن جابر بن عبدالله الانصاري رضي الله عنه قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أذن لي أن أحدث عن ملك من ملائكة الله من حملة العرش ان ما بين شحمة أذنه الى عاتقه مسيرة سبعمائة عام (رواه أبو داود

“Telah dizinkan kepadaku untuk bercerita tentang seorang dari Malaikat-Malaikat Allah yang bertugas sebagai pemikul ‘Arsy, bahwa jarak antara daun telinganya sampai ke bahunya adalah sejauh perjalanan 700 tahun. (dalam riwayat lain:700 tahun burung terbang dengan cepat) (Hadits Shahih Riwayat Abu Daud dari Shahabat Jabir bin Abdillah ra).

Hadits ini menunjukkan bahwa Arsy merupakan makhluk Allah yang besar, dan perlu diketahui bahwa nanti di hari kiamat Arsy ini akan dijunjung oleh beberapa malaikat (8 malaikat) sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya ketika beliau menafsirkan surat Al Haaqqah:

فَتَعَالَى اللَّهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ هُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ ﴿١٥﴾ وَانشَقَّتِ السَّمَآءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ ﴿١٦﴾ وَالْمَلَكُ عَلَى أَرْجَآئِهَآ وَيَحْمِلُ عَرْشَ رَبِّكَ فَوْقَهُمْ يَوْمَئِذٍ ثَمَانِيَةٌ ﴿١٧﴾ – الحاقة

”Maka pada hari itu terjadilah hari kiamat, dan terbelahlah langit, karena pada hari itu langit menjadi lemah. Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka. – Al Haaqqah,15-17

Tentu kita akan bertanya dimana Arsy dan Kursi Allah berada? Allah berfirman

وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى ٱلْمَآءِ – هود ﴿٧

”Arsy Allah berada diatas air”.- Hud, 7

Rasulallah saw dalam haditsnya yang diriwatkan oleh Abu Dawud bersabda.

قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : والعرش فوق الماء والله فوق العرش وهو يعلم ما أنتم عليه (رواه ابو داود في السنن 

”Arsy itu di atas air, sedangkan Allah di atas ‘Arsy, dan Dia mengetahui apa yang kamu perbuat” (Hadits Shahih riwayat Abu Daud).

Jadi ‘Arsy adalah singgasana Allah yang berada di atas air. Sedangkan Kursi berada diatas langit ke tujuh dan diatas kursi itu ada air dan diatas air ada Arsy. Sebuah hal yang sangat mengagumkan. Subhanallah.

Adapun “Kursi” adalah makhluk besar terdapat dibawah Arsy dan diatas langit yang ke tujuh. Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah, 255 (ayat Kursi)

 وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ وَلاَ يَؤُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ – البقرة ﴿٢٥٥

“Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”.

Ada beberapa penapsiran tentang makna “Kursi”.  Sebagian mufassir mengartikan kursi itu Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya, dan ada lagi yang menafisirkan tempat letak telapak Kaki-Nya.

Sekarang kita perhatikan yang menafsirkan bahwa ‘Kursi’ adalah tempat letak telapak Kaki Allah. Itu adalah tafsiran kelompok yang mempunyai aqidah ”Mujassimah” atau aqidah “Tasybih” atau aqidah yang menyerupakan Allah saw dengan makhluk atau aqidah yang meletakan sifat Allah mempunyai anggota tubuh (jisim). Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sifatkan atas penyifatan makhluk kepada DzatNya.

Kalau kita ditelusuri ternyata kitab Al Qur’an dan Terjemah yang disebarluaskan oleh Arab Saudi itu telah mengalami perubahan dan penambahan yang menyimpang dan tidak sesuai lagi dengan terjemah dan tafsir dari Dewan Penterjemah Depag RI.

Salah satunya adalah tentang tafsir Ayat Kursi (Qur’an Surat Al Baqarah ayat 255). Di dalam Al Qur’an dan Terjemahnya terbitan Arab Saudi (yang telah mengalami perubahan dari versi aslinya) tertulis: “Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassir mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya. Pendapat yang shahih (benar) terhadap makna “Kursi” adalah tempat letak telapak Kaki Allah.”.

Sedangkan dalam Al Qur’an dan Terjemahnya cetakan versi asli Depag RI tertulis: “Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassir mengartikan Ilmu Allah, ada juga yang mengartikan kekuasaanNya.”, tidak ada kata “tempat letak telapak Kaki Allah”.

Mereka lupa bahwa walaupun bentuk dan ukuran kakinya berbeda, sifat kaki bagi kaki semut, kaki gajah, kaki meja atau kaki kamera adalah sama yaitu untuk menopang sesuatu yang mempunyai suatu bentuk serta ukuran. Jadi mereka mensifatkan yang tidak dilayak bagi Allah yakni sifat kaki, walaupun dikatakan bentuknya tidak serupa dengan makhlukNya, ليس كمثله شيئ  “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia” sedangkan bentuk dan ukuran adalah sifat makhluq bukan sifat Allah.

Imam Abu Hanifah dalam kitab Al-Fiqhul-Akbar mengingatkan bahwa Allah Ta’ala tidak boleh disifatkan dengan sifat-sifat benda seperti ukuran, batasan atau berbatas dengan ciptaanNya , sisi-sisi, anggota tubuh yang besar (seperti tangan dan kaki) dan anggota tubuh yang kecil (seperti mata dan lidah) atau diliputi oleh arah penjuru yang enam arah (atas, bawah, kiri, kanan, depan, belakang) seperti halnya makhluk (diliputi oleh arah)

Ibnu Abbas ra berkata,

قال ابن عباس رضي الله عنه : الكرسي موضع القدمين ، والعرش لا يقدر أحد قدره

Artinya: “Al-Kursy adalah tempat kedua kaki, sedangkan Arsy tidak ada seorang pun yang dapat memperkirakan ukurannya.”

Adapun pemahaman hadits tersebut adalah bahwa besarnya al-Kursiy dibanding dengan arsy adalah bentuk yang sangat kecil sekali. Perumpamaan besarnya kursi hanyalah seukuran dua telapak kaki seorang yang duduk di atas ranjang. Jadi hadits tersebut jika tetap hendak diterima adalah sekedar untuk memperbandingkan besarnya kursi Allah dengan Arsy Nya. Tidak lebih dari itu.

Jadi permasalahan terbesar yang dapat menjerumuskan penyimpangan dalam i’tiqad adalah cara mereka menetapkan sifat Allah yang selalu berpegang pada nash secara dzahir atau penetapan sifat Allah selalu berdasarkan makna dzahir

Imam Ahmad ar-Rifa’i (W. 578 H/1182 M) dalam kitabnya al-Burhan al-Muayyad, berkata: “Jagalah aqidahmu dari berpegang dengan dzahir ayat dan hadis mutasyabihat, karena hal itu salah satu pangkal kekufuran”.

Imam besar ahli hadis dan tafsir, Jalaluddin As-Suyuthi dalam “Tanbihul Ghabiy Fi  Tabriat Ibn ‘Arabi” mengatakan: “Ia (ayat-ayat mutasyabihat) memiliki makna-makna khusus yang berbeda dengan makna yang dipahami oleh orang biasa. Barangsiapa memahami kata wajh (wajah) Allah, yad (tangan) , ain (mata) dan istiwa (tempat) sebagaimana makna yang selama ini diketahui (wajah Allah, tangan, mata, bertempat), ia kafir atau kufur dalam i’tiqad secara pasti.”

Jadi yang perlu diketahui dalam akidah Asy’ariyah bahwa:

– Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah mempunyai jism (bentuk) atau memiliki jasad seperti tangan, kaki dll  sebagaimana jisim-jisim makhluk lainnya, maka orang tersebut hukumnya kufur dalam i’tiqad.

– Barangsiapa mengi’tiqadkan (meyakinkan) bahwa Allah mempunyai jisim (bentuk) atau memiliki jasad seperti tangan, kaki dll sebagaimana jisim-jisim makhluk lainnya, namun ia menyakinkan bahwa jisimnya Allah tidak serupa dengan jisim-jisim makhluk lainnya (tidak serupa dengan tangan dan kaki makhlukNya), maka orang tersebut hukumnya telah berbuat durhaka kepada Allah.

– I’tiqad yang benar adalah i’tiqad yang menyatakan bahwa sesungguhnya Allah itu bukanlah seperti jisim (bentuk suatu makhluk) dan bukan pula berupa sifat seperti sifat makhluk-Nya. Tidak ada yang dapat mengetahui Dzat Allah kecuali Dia.

Hikmah Dan Atsar

Dari keterangan diatas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa semakin kita mengetahui ilmu Tauhid, semakin banyak kita mengetahui tentang kebesaran dan keagungan Allah, dan semakin membuat diri kita menjadi kerdil, kecil dan hina dihadapan Allah yang Maha Maha Maha besar.

Iklan

Filed under: Uncategorized

6 Responses

  1. guskhoir berkata:

    Subkhanallahi wabi hamdih.

    • budi berkata:

      arsy Allah di atas air, hanya Allah yg tahu maksudnya…

      tp saya baca air = H2O, terdiri dari hidrogen & oksigen, hidrogen adalah materi pertama muncul setelah big bang yg merupakan materi penyusun alam semesta, sedangkan oksigen adalah 70% materi di bumi, wallahu a’lam

  2. APD berkata:

    Allah maha besar

  3. dudi berkata:

    SUBHANALLOH WALHAMDULILLAH WALA ILAHA ILLALLOH WALAAHU AKBAAR…… la haula wala quwata illa billah hil aliyil adziim

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

att00132
Akidah Menurut Ajaran Nabi

Hb Umar dan Penyusun

Toko Dubai.. menjual bermacam macam Abaya, Kerudung dan gamis asli dari Timur Tengah. Alamat paling gampang jalan Raya Condet no.4,,, alamat Maps google “Toko Dubai”

Pengunjung

  • 1,446,393 hits
%d blogger menyukai ini: