Akidah Menurut Ajaran Nabi

Ikon

Oleh: Hasan Husen Assagaf

Qada’ Dan Qadar

الدرس العاشر : في القضاء و القدر

القضاء هو تحديد الله أزلا كل مخلوق بحده الذي يوجد عليه من حسن و قبح و نفع و ضر ، ما يحويه من زمان و مكان و ما يترتب عليه من ثواب و عقاب .

القدر هو إيجاد الله الأشياء على وفق إرادته و علمه بها و تحديده لها في الأزل .

الايمان بالقضاء و القدر

معنى الإيمان بهما هو الاعتقاد الجازم بأن كل شيئ خيرا كان و شرا بقضاء الله وقدره و قد قدر الله أفعالنا في الأزل سواء كانت اختيارية و اضطرارية ، و جعل لنا إرادة جزئية نقدر بها على اختيار الخير أو الشر ، فلسنا مجبورين على فعل شيئ ، قال صلى الله عليه و آله وسلم ( لا يؤمن عبده حتى يؤمن بأربعة : يشهد أن لا اله الا الله و أني رسول الله بعثني بالحق و يؤمن بالبعث بعد الموت ، و يؤمن بالقدر خيره و شره حلوه و مره فيجب الرضاء بالقضاء و القدر و يحرم الاحتياج بهما على المعاصي

 

PELAJARAN KESEPULUH: QADHA DAN QADAR

SYARAH

 

Percaya kepada qadha dan qadar adalah mempercayai bahwa segala yang berlaku berupa kebaikan atau keburukan adalah ketentuan Allah semata-mata.

Qadha adalah penentuan Allah yang tidak bisa berubah kepada makhlukNya berupa kebaikan atau keburukan sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan dari kebijaksanaa-Nya yang tanpa batas dan ilmu Nya yang Maha Tinggi

Sebagai contoh, Allah menetapkan bahwa di dalam air itu terdapat zat Oksigen dan Hidrogen. Hakikat ini tidak dapat dirubah sampai kapanpun. Begitu pula Allah menetapkan mata sebagai alat untuk melihat dan telinga untuk mendengar dan fungsi ini tidak bisa berobah sampai kapanpun. Allah menetapkan setiap yang hidup pasti akan mati dan tidak ada seorangpun yang bisa merobah kenyataan ini. Semua ini tidak dapat dirobah oleh siapapun sebab semuanya ini adalah ketetapan Allah sejak dari azali atau dari zaman yang tidak bermula berdasarkan kebijaksanaan-Nya yang tanpa batas.

Qadar adalah perkara yang diciptakan Allah sesuai dengan kehendak dan pengetahuan-Nya, kemudian ditetapkan dalam azali atau zaman yang tidak bermula.

Allah telah mentakdirkan semua perbuatan manusia baik berupa pilihannya sendiri atau sesuatu yang telah ditetapkan Allah. Dan Allah tidak memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Maka dari itu semua kelakuan dan tindak tanduk manusia sehari hari bisa berobah dan manusialah yang merobahnya.

Kesimpulannya, bahwa Allah tidak pernah memaksa manusia tapi Allah memberikan kebebasan kepadanya untuk memilih jalan hidupnya sendiri. Tapi walaupun demikian, segala keputusan manusia tidak boleh keluar dari ruang yang telah Allah tetapkan dan Allah telah mengetahui segala keputusan yang akan diambil oleh manusia. Allah berfirman: ” Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan Aku sekali-kali tidak menganiaya hamba-hamba-Ku.” (Qaaf, 29)

Telah diketahi bahwa semua yang menyangkut dengan urusan manusia telah tertulis di di Lauhil Mahfudh dan ini merupakan takdir dari Allah. Tapi takdir ini boleh berubah dari masa ke masa, contohnya , jika usia seseorang telah tertulis di Lohil Mahfudh 60 tahun, tapi ia sering melakukan silaturahim kepada keluarganya dan sesama manusia, maka dengan kehendak Allah mungkin menambah usianya melebihi 60 tahun. Allah berfirman: ” Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Umulkitab (Lohmahfuz).” (Ar-Ra’du, 39)

Di samping silaturahim yang bisa merobah takdir usia manusia menjadi lebih panjang, do’a juga bisa merobah takdir Allah yang telah ditulis di Lohil Mahfodh, semua ini bisa berobah dengan kehendak Allah dan kebijaksanaa-Nya yang Luas. Makanya kita dianjurkan berdo’a dalam nishfu Sya’ban: “Ya Allah, jika Engkau telah mentakdirkan aku tergolong di dalam golongan orang-orang yang bahagia, maka tetaplah aku di dalam keadaan itu. Sebaliknya jika Engkau telah mentakdirkan aku di dalam golongan orang-orang yang celaka dan berdosa, maka hapuskanlah takdir itu dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang mendapat kebahagiaan dan keampunan.”

Kita sebagai muslim wajib percaya dan meyakini dengan keyakinan yang teguh bahwa semua yang berlaku berupa kebaikan atau keburukan adalah ketentuan Allah semata-mata. Rasulallah saw bersabda “Tidak beriman seseorang kecuali ia meimani empat perkara, menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan yang disembah kecuali Allah, mempercayai bahwa aku adalah Rasulallah ditutus dengan kebenaran, mengimanai dengan hari kebangkitan setelah kematian, dan mempercayai takdir Allah berupa kebaikan atau keburukan, manis dan pahit.” Dan kita wajib pula ridho dan ikhlas dengan ketentuan Allah. . 

Hikmah Dan Atsar

Ada seorang laki laki ditangkap karena mencuri pada zaman Khalifah Umar bin Khathab ra. Lalu ia dibawa menghadap beliau. Lelaki itu ditanya, “Mengapa kamu mencuri?” ia menjawab, “Karena Allah telah mentakdirkan kepada diriku untuk mencuri”. Khalifah Umar ra marah besar mendengar jawaban laki laki tersebut lalu berkata, “Cambuk laki laki ini dengan tiga puluh cambukan lalu potong tangannya.” Laki laki ini terkejut dengan hukuman itu dan lalu bertanya: “Mengapa hukumannya begitu berat?” Umar bin Khattab ra berkata: “Kamu akan dipotong tangan karena mencuri dan dicambuk karena berdusta atas nama Allah.” Maksudnya, manusia diizinkan Allah untuk membuat pilihan dan hal ini adalah sebahagian daripada ketetapan qadha dan qadar.

Filed under: Uncategorized

One Response

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

att00132
Habib Umar Bin Hafidh dan Penyusun hb umar dan hasan

Sekitar Maqam Dan Zam-Zam

Kado Dari Kota Nabi

Pengunjung

  • 1,053,085 hits
%d blogger menyukai ini: